Assalammualaikum. Hellow....
Yang pusing milih sekolah buat anak, yukk toss dulu kita. Aku pun pusing yaa memilih SD buat anak. Yess bukan buat Ghifaz saja, karena aku pengennya Ghifaz, Rafif dan Ghizan sekolahnya sama. Jadilah banyak pertimbangan yang bikin mumed sendiri. Penting bagi orang tua untuk mempertimbangkan usia anak. Menurut psikolog
Elly Risman usia matang anak bersekolah SD adalah 7 tahun (bisa baca lebih lengkap di
sini). Di Indonesia,
Kemendikbudristek memprioritaskan anak usia 7 tahun, dan usia minimal 6 tahun pada bulan Juli tahun bejalan. Usia Ghifaz per Juli 2024 6 tahun 2 bulan. Jujur ibunya ini galau lebih baik usia 6 atau tujuh tahun lebih. Mau test kematangan ke psikolog waktunya terlalu mepet, karena SD swasta sudah mulai proses PPDB-nya. Kenapa lah ini sekolah swasta mulai PPDB tahun N-1?
Informasi yang kudapat dari Bunda-bunda senior yang sudah terlebih dahulu menyekolahkan anaknya kalau di sekolah negeri diprioritaskan usia 7 tahun, di swasta bisa 6 tahun namun lulus test kematangan. Dari sekolah swasta yang ku survei testnya adalah diagnostik untuk pemetaan kelas. Artinya jika Ghifaz mau sekolah SD tahun depan peluang lebih besar masuk ke sekolah swasta dan konsekuensinya SMP dan SMA-nya kemungkinan besar swasta (mikir biayanya kan ya). Padahal cita-cita ibunya SD swasta, SMP - kuliah negeri, jadi ibunya bisa mengumpulkan pundi-pundi untuk biaya kuliah. Kalau menunda masuk SD sampai usia 7 tahun pun muncul problem, anaknya seahun ngapain? TK B lagi, kelas preparation SD atau les-les (Calistung dan Bahasa Inggris).
Dari sisi kesiapan anak, menurut artikelnya
Annisast di
mommydaily anak sebaiknya memiliki
skill kemandirian, setidaknya anak mandiri saat buang air sendiri baik kecil maupun besar, makan, memakai baju dan sepatu. Selain itu setidaknya anak tahu namanya sendiri mau bergantian dengan temannnya dan mampu meregulasi emosinya. Pada artikel tersebut juga disebutkan salah satu tanda kesiapan anak adalah anak mampu mengendarai sepeda roda dua.
Selain motorik, mengendarai sepeda juga melatih self control anak. Ia akan belajar keseimbangan, belajar kapan harus berhenti atau belok agar tidak menabrak, belajar melambatkan laju sepeda, dan banyak lagi. Kalau anak sudah siap selanjutnya yuuk pilih sekolahnya. So far untuk SD ini ada tiga kategori yang aku temui dan tanya ke Bunda Senior, yaitu :
- Sekolah Dasar (SD) - Ini SD pada umumnya yaa, negeri dan swasta. Pelajarannya umum yaa, untuk agamanya yaa biasa saja tapi di beberapa SD Swasta ada program Imtaq untuk penguatan agama.
- Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) - Sama seperti SD di bawah naungan Kemendikbudristed namun pelajaran Agama Islamnya lebih banyak. Kalau di SD hanya sekali seminggu di SDIT bisa dua atau tiga kali seminggu. Di SDIT ada pembiasaan untu shalat dhuha dan tahfiz.
- Madrasah Ibtidaiyah (MI) - Berbeda dengan SD dan SDIT, MI ini di bawah naungan Kementerian Agama fokusnya memang ke agama, ada pelajaran Fiqih, Aqidah Akhlah (CMIIW)
Dalam memilik sekolah sebaiknya mempertimbangkan:
- Kurikulum dan Program Sekolah - Kurikulum yang digunakan yang aku temui saat survei adalah: Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka, Cambridge, Kurikulum Jaringan Sekolah Islam Terpadu. Ada yang murni diterapkan ada juga yang kombinasi dari beberapa kurikulum. Programnya ada yang menitikberatkan pada pembentukan karakter, hafalan, skill tertentu, dll. Pada umumnya bahasa pengantar Bahasa Indonesia namun ada sekolah yang memiliki program bilingual 2 bahasa, Indonesia dan Inggris. Aku pribadi tidak memilih program bilingual, khawatir berat untuk anak. Perlu ditanyakan juga, menggunakan sistem rangking atau tidak, bagaimana sekolah meng-handel anak-anak yang konflik atau butuh perlakuan khusus dalam belajar, seperti anak yang tipe belajarnya kinestetik, hiperaktif, dll.
- Jam Sekolah - Ada yang full day, atau ndak, tergantung kelasnya. Biasanya untuk kelas 1-3 jam pulangnya 13.30 - 14.00, kelas 4-6 jam 15.30 - 16.00. Belum termasuk ekskul yaa. Jangan lupa snack dan makan siang untuk anak, bisa bawa bekal atau katering dari seolah. Biaya nambah lagi yaa bun, hiks
- Jarak Sekolah dengan Rumah - Sebaiknya memang yang paling dekat dengan rumah untuk saving energi anak. Tapi kalau cocoknya dengan yang jauh dari rumah yaa monggo saja, jangan lupa diperhitungkan biaya transportasinya.
- Biaya - Biaya ini penting sekali yaa. Sebisa mungkin biaya bulanan sekolah untuk seluruh anak tidak lebih dari 10% dari pendapatan per bulan. Biayanya ditambahin semua yaa : SPP, Transportasi, Uang Saku, Ekskul, dan Tabungan Biaya Tahunan (Uang Komite, Seragam, Buku, Outing, Daftar Ulang).
Pusing yaa Bun? Sama, kepalaku juga sudah cenut-cenut. Semoga Allah cukupkan rizkinya untuk pendidikan anak. Aamiin.