Selasa, 28 Juni 2022

Pelan-Pelan

Assalammualaikum
Ku ingin curhat 😊
Sedang merasa lebih kecil dalam segala hal dari orang lain. Merasa bahwa bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Just me, the ordonary one. Lalu mikir, bisa jadi ku butuh usaha dan doa yang lebih dari mereka. Aku sendiri kan juga ndak tahu bagaimana usaha dan doa mereka hingga sampai ke pencapaian mereka. Ahh sudah lah semua punya jalannya masing-masing. Bagaimana kita melewati jalan itu, apakah menghalalkan segala cara atau ingin berbonus pahala karena bernilai ibadah. 

Tak perlu membandingkan diri dengan orang lain jika membuatmu lebih rendah ataupun iri. Fokuslah dengan dirimu sendiri. Lawanlah dirimu sendiri, sifat dan perilaku yang menghambatmu. Kembangkanlah potensimu dengan cara yang baik. Tak perlu melihat hasil orang lain. Di dunia ini ada yang namanya previledge yang tak semua orang miliki. 

Suatu saat akan kutemukan caraku sendiri, yang kumulai hari ini dengan pelan. Perlahan tapi pasti dengan kehati-hatian dan kewaspadaan yang ku miliki. Aku percaya Allah akan cukupkan dan akan tunjukkan jalan di saat yang tepat. Manusia hanya diminta untuk bersabar dan shalat untuk menghadapi kerumitan dalam hidup ini. Selalu yakin Allah senantiasa bersama hamba-Nya yang selalu berharap hanya karena Dia. Allah Maha Oke kalau kata Ippho. 

Semua pasti ada waktu yang tepat. Allah sudah janjikan itu. Ku lihat diriku, ahh memang banyak kurangnya. Pelan-pelan dan pasti akan kuperbaiki, hingga Allah ridha dan mengabulkan doaku di waktu yang tepat.  Semoga langkah-langkah kecil yang kumulai bisa menghantarkanku ke ridha-Nya. Yuuk bisa yuuk πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

Selasa, 21 Juni 2022

Semoga Bukan Wacana Belaka

Assalammualaikum
Dari judul aja sudah mengandung doa yaaa. Sejujurnya ini adalah curhatan galau buibu 🀣
Ketika tidak ambi di pekerjaan tiba-tiba kemarin terlintas di pikiran "harus ambi di hal lainnya", hiahahaha. Jadi pingin bisa ini, ina, inu, ono gitu. Pingin belajar hal-hal baru, berasa bebal sekali ini otak saya. Terus mikir lagi kapan waktunya? Jelas ndak bisa kalau meluangkan waktu untuk kursus luring dan sejenisnya. Uang juga sih. Kalau uang lebih ke apakah worth it? Nanti serius ndak yaa, kan anaknya labil dan galauan gini, khawatir malah buang-buang waktu, tenaga, pikiran dan uang. Kan galaunya akut sekali ini. Misal pingin ikut pelatihan dan sertifikasi CFP yang mana biayanya ndak murah, hahaha. Pilihannya adalah bagaimana kalau daring atau otodidak. Memanfaatkan waktu saat semua terlelap atau jam istirahat atau dalam perjalanan berangkat dan pulang kantor di kereta πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

Macam ada titik terang kan yaa otodidak aja lah yaa, masak iyaa ndak bisa. Toh bukan belajar yang serius-serius gitu. So far yang terlintas adalah masak, menjahit, buat infografis yang bermanfaat gitu keseharian buibu, menggambar, fotografi, bikin video, analisis data, dan masih banyak lagi (buibu banyak maunya). Mau seriusin lagi yang pernah sedikit dicicipi. Tapi koq banyak yaaa. Nggak bisa banyak gini kudu fokus dulu di satu hal, kalau sudah ok baru pindah, jangan serakah lah yaa, macam mampu aja. 

Sebelum melakukan itu I will push my self to the limit untuk menyelesaikan semua yang tertunda (tak perlu ku tulis satu per satu yaa, asli malu). Sampai dengan bulan Juli harus sudah selesai semua lahh itu semua tanggungan. Kebayang akan sejumpalitan apa nanti. Lhaa masih lama dong belajar ini, ina, inu, ononya, hahaha. Yaa gpp target-target sendiri kan yaa. Mulai bulan Agustus 2022. Daripada ndak sama sekali. Ku mencoba fokus dulu sama hal-hal yang tertunda 🀣🀣🀣
Zaman Lincah Bagai Bola BekelπŸ˜†
Harus bisa lincah bagai bola bekel lagi ini, badanku kudu sehat no drama sakit punggung. Namanya hidup sehat dan seimbang itu susah yaa. Kudu olahraga juga ini minimal 30 menit lahh yaa supaya ndak gampang lemah, letih, lesu, lemas, lelah, hahaha. Jaga makan, jangan gula mulu dimasukin ke badan yaa. Bismillah, perjuangan akan berat, semoga bisa terealisasi semua. Aamiin. 

Senin, 20 Juni 2022

Drama Berat Badan Anak

Assalammualaikum, 
Anaknya ada jadwal vaksin ndak ibu-ibu? Sudah divaksin kah? 
Dua minggu yang lalu bawa Ghizan imunisasi, setelah tiga minggu gagal karena batpil menyerang. Rutinitas sebelum eksekusi jarum suntik kan ditimbang berat badannya yaa, Ibu Puput ini shock banget berat badan Ghizan bukannya naik malah turun 200 gram. Walaupun dapat kejutan begitu mencoba kalem dengan tarik nafas dalam dan mencari pembenaran "kan abis batuk pilek, yaa wajar aja". Lebih shock lagi setelah diplot ke kurva pertumbuhan di luar garis dong macam scatter diagram yang titik-titiknya banyak mencelat jauh. 

Duh nambah aja ini permasalahan, urusan gigi Mas aja nggak selesai-selesai. Khawatir ada penyakit-penyakit yang wow gitu, yang mana kudu siap merogoh tabungan untuk yest ina dan inu. Jadi pilihanya ayo kita semangat 45 naikin berat badan anak. Kemana itu larinya kechubbian pipi Ghijun. Yaa sudah lah, berhubung Ibu Puput ini ndak kreatif dan kurang banyak dalam membuat makanan, kita optimalkan aja yang dia mau, ayam tepung to the rescue. Jadwal makannya ditambah, 2 jam sebelum tidur berjibaku nyuapin lagi 2 anak. Iya kerjaan saya full nyuapin anak begitu sampai di rumah. Selesai nyuapin, nidurin bocah dan ikut pulas sampai pagi 🀣

Bocah satu ini aktifnya bikin kita nyebut dan teriak-teriak, the most dibandingkan Mas dan Adik sepupunya. Karena aktifnya itu emaknya bisa lebih kalem, kalo anaknya lemes kan bisa kurang ina dan inu dan kemungkinan sakitnya lebih besar. Mungkin ini anak emang kurang aja porsi makannya. Dua anakku berat badannya emang irit sih, tapi Mas masih di dalam garis kurva. 

Mulai ngeluarin timbangan lagi, biar berat badannya sering ditimbang dan semoga ndak bikin emaknya sport jantung. Alhamdulillah adek ditimbang ada kenaikan 400 gram. Mas juga kurang sebenarnya, tapi dia lebih gampang dibujuk untuk makan meskipun susah masuk proteinnya. Emaknya kudu ngebujuk dengan berbagai macam alasan supaya mau makan telur dan ayam. Daging belum berhasil sama sekali 😭
Entah kenapa anak-anak saya belum tertarik sama makanan-makanan baru. Ndak ada yang doyan pasta atau keju macam anak-anak lain. Entah faktor keturunan atau emang nggak menarik yaa. 

Kalau siang ku pasrah saja sama Uti. Peluk erat Uti semoga selalu sehat. Maafkan anakmu ini Uti selalu ngetepotin. I loph you full Uti. 

Kamis, 16 Juni 2022

Haruskah Memiliki Anak Sepasang (Laki-laki dan Perempuan) ?


Impian kebanyakan orang memiliki anak laki-laki dan perempuan, sepasang seperti Nussa dan Rara ini. Rasanya hidup sudah lengkap yaa kalau sudah punya anak sepasang. Ketika anak pertama lahir, nasehat dari Mereka Yang Maha Benar adalah "hayuks nambah lagi, biar sepasang". Atau ketika anak sudah dua dan jenis kelaminnya sama, nasehatnya akan menjadi "Nambah lagi biar ada cowo/cewenya". Macam makan aja yaa bisa nambah seenaknya. Haruskah diikuti? Tentu kembali lagi ke pribadi masing-masing. Memiliki anak bukanlah perkara mudah, banyak konsekuensi yang harus dihadapi dan dijalani, baik bagi orang tua atau pun keluarga besar lainnya. Memiliki anak akan lebih baik direncanakan dengan matang. 

Karena memiliki anak butuh tenaga, waktu, dan biaya, untuk aku pribadi secukupnya saja jumlahnya, tak perlu ada perempuan dan laki-laki, walaupun sebetulnya ingin, tetapi keinginan kan belum tentu sesuai dengan kebutuhan, hihihi. Jadi syukuri saja yang sudah ada. Merasa cukup dengan 1 anak yaa monggo atau 2 anak dengan jenis kelamin sama yaaa syukuri saja, dengan merawat dan mengasuh mereka sebaik-baiknya. Mau nambah terus sampai jenis kelaminnya lengkap yaa boleh saja, tidak ada larangan. Asal paham konsekuensinya. 

Kebetulan aku dan suami sudah merasa cukup dengan yang ada sekarang, 2 anak berjenis kelamin laki-laki yang membuat kami jumpalitan karena alhamdulillah aktifnya luar biasa. Ibunya paling cantik lah di keluarga. Bodyguardnya ada tiga πŸ˜‚Bagaimana kalau nanti Allah berkehendak lain? Itu kan nanti, mari dihadapi yang ada sekarang, tak perlu berandai-andai dengan nanti. Fokus dengan upaya tidak nambah anak, 🀭

Yang anaknya semua perempuan ndak papa, seru lho, saya dengan adik saya perempuan duanya, saling menyayangi dan terpisahkan, hehehe. Baju dan tas bisa gantian, kemana-mana bisa barengan. Apa pun jenis kelaminnya yang penting sehat dan bahagia. Bahkan pernah dengar barang siapa yang mempunyai tiga anak perempuan dan ketiganya sholehah maka surga bagi orang tuanya. Terpenting adalah dididik dengan baik sesuai syariat anak-anak kita ini. Ndak perlu sedih karena anak-anaknya perempuan semua atau laki-laki semua. Semua adalah anugrah yang harus disyukuri. 

Semmangats... 


Sumber Gambar  :https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20210106122504-220-590112/felix-siauw-ungkap-kronologi-setop-serial-animasi-nussa

 

Just a Little Note Template by Ipietoon Cute Blog Design